Bencana Sumatra: Tinggalkan Kehancuran, Hadirkan Jutaan Empati dan Sisakan Kenangan Membekas Dengan Baik

Pilarinfomasi.com, Sumatra – Sekilas peristiwa mengenai bencana alam yang terjadi di Pulau Sumatra yang menggores hati jutaan masyarakat.bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor ini bahkan merenggut korban hingga ribuan jiwa.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor menghantam beberapa titik di Pula Sumatra mulai dari Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Namun peristiwa bencana besar ini sampai sekarang statusnya belum ditetapkan pemerintah sebagai bencana nasional meskipun banyak desakan muncul.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat korban meninggal dunia sebanyak 776 orang dan 564 hilang atau belum ditemukan.

Kondisi miris ini disertai dengan ratapan kesedihan dari para keluarga korban.jutaan rumah, fasilitas publik hingga jalan terputus akibat dihantam banjir bandang dan tanah longsor yang memporak-porandakan lingkungan disekitarnya.

Kisah tangis dan kesedihan dialami masyarakat yang kehilangan keluarga akibat banjir dan tanah longsor.

Beragam bantuan, donasi dan dukungan berdatangan dari masyarakat seluruh Indonesia mulai dari pemerintah daerah lain dan masyarakat peduli bencana alam mulai dari bantuan bahan pokok, makanan, listrik, jaringan hingga logistik lainnya terus berdatangan mulai dari akses darat hingga udara.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa betapa besarnya jiwa kepedulian masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudaranya yang tertimpa musibah.

Situasi saat ini di beberapa daerah terdampak bencana, kegiatan sudah mulai berjalan, akses jalan transportasi bantuan logistik sudah mulai terbuka sehingga bantuan dari pemerintah dan masyarakat dapat tersalurkan secara langsung kepada korban.

Namun ditengah kondisi bencana itu muncul topik yang menarik yaitu keberadaan tumpukan kayu bekas tebangan yang menuai pro dan kontra di masyarakat.

Ada masyarakat yang mengatakan kayu berasal dari sisa ranting dan kayu roboh yang hanyut dibawa arus banjir, namun banyak yang mengatakan kayu tersebut berasal dari Illegal Logging (Penebangan Liar) dan ada yang menyebutkan bencana disebabkan tambang Ilegal. dan apapun darimanapun asal muasal penyebabnya tentunya bencana alam tersebut merupakan kuasa tuhan dan tidak ada yang tahu kapan tibanya.

Tapi ada hal yang harus dipahami bahwa apabila bencana disebabkan oleh kerusakan lingkungan, maka harusnya menjadi sebuah pelajaran agar masyarakat dan pemerintah meningkatkan pemeliharaan hutan dan tidak membuat kerusakan.

Hutan merupakan ekosistem dan penunjang utama dalam mencegah bencana alam terjadi sehingga hutan sangat perlu dijaga dan tidak dirusak secara massal.

Pelajaran berharga bagi seluruh pihak, pentingnya langkah mitigasi dan antisipasi agar masyarakat dan pemerintah memiliki kesiapan dalam mengatasinya.

Selain itu pembenahan terkait penggunaan kawasan hutan perlu dilakukan guna mencegah bencana alam lanjutan terjadi kembali.

Pelajaran yang dipetik adalah jangan merusak alam jika tidak ingin alam yang menghancurkan kita.kemudian lingkungan dan hutan adalah penopang kehidupan alam, satu hektar alam yang hancur maka menyebabkan badai bencana besar berdatangan.

Mari Jaga Alam Kita Dengan Baik !! (Pinggo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *