Pilar informasi.com PALEMBANG — Indonesia Ramah Lansia (IRL) Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) Indonesia Ramah Lansia bertema “Mewujudkan Masyarakat yang Peduli, Inklusif dan Ramah Lansia”, di Radisya Studio Jalan Mahmil No.12 Palembang, Sabtu (16/5/2026), pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari pusat maupun daerah guna memberikan pembekalan terkait pengembangan sekolah lansia di Sumatera Selatan.
Direktur Representatif Indonesia Ramah Lansia Jakarta, dr. Ary mengatakan, dirinya hadir sebagai narasumber karena IRL Sumsel baru saja terbentuk dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pengelolaan sekolah lansia.
“Hari ini saya diminta sebagai narasumber karena Sumatera Selatan baru mendirikan Indonesia Ramah Lansia (IRL). Kami memberikan bekal agar nantinya sekolah lansia bisa mandiri dan berkembang hingga ke daerah-daerah di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, IRL berawal dari gerakan anak-anak muda di Yogyakarta yang dimotori para perawat dan dibimbing oleh Prof. Dr. Tribiri. Organisasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya jumlah populasi lansia di Indonesia.
“Jumlah lansia di Indonesia terus meningkat. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, tentu akan menjadi beban keluarga maupun pemerintah. Karena itu IRL hadir sebagai gerakan sukarela atau volunteer untuk memberdayakan para lansia,” jelasnya.
Menurutnya, sekolah lansia menjadi salah satu solusi agar para lansia tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, bahagia, sejahtera, dan bermartabat.
“Berdasarkan data statistik 2025, jumlah lansia di Indonesia mencapai 11,93 persen. Diprediksi pada tahun 2045, satu dari lima orang merupakan lansia. Maka dari itu, sekolah lansia penting untuk mempersiapkan mereka agar tetap mandiri,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pendidikan Indonesia Ramah Lansia DKI Jakarta, Dr. Kunti Tri Dewi Yanti menilai keberadaan sekolah lansia sangat penting seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.
“Dengan meningkatnya usia lanjut, penting adanya upaya dari masyarakat, pemerintah, dan akademisi agar lansia tetap produktif dan tidak merasa sendiri maupun kesepian,” katanya.
Ia menambahkan, lansia tetap dapat berkarya dan beraktivitas selama mendapatkan edukasi serta dukungan lingkungan yang baik.
“Kita berharap lansia tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi juga mendapatkan edukasi agar tetap sehat, bahagia, produktif dan bermartabat,” ujarnya.
Terkait keberadaan panti jompo, Kunti menegaskan bahwa IRL juga siap merangkul dan membantu para penghuni panti sesuai kondisi masing-masing.
“Inilah pentingnya keterlibatan lingkungan terdekat, termasuk RT dan RW, dalam perlindungan terhadap lansia. Sehingga apabila terjadi sesuatu, bisa cepat diketahui,” tutupnya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Representatif IRL Sumatera Selatan, Hj. Eryn Sukma, SH., SE, mengatakan IRL Sumsel resmi berdiri sejak 22 Desember 2025 dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah saat sosialisasi pertama dihadiri sekitar 350 lansia dari berbagai daerah di Sumatera Selatan,” katanya.
Ia menjelaskan, selain menggelar TOT, IRL Sumsel juga meluncurkan sekolah lansia pertama bernama Cahaya Ratu Sinuhun Sriwijaya dengan kepala sekolah Wiwin Purwanti, S.Pd
Menurut Eryn, IRL Sumsel mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pembina IRL Sumsel, Prof. Edward serta Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel, dr. Arios Saplis.
“Tidak menutup kemungkinan kami akan bergerak cepat membentuk kepengurusan di 17 kabupaten/kota se-Sumsel. Saat ini sudah ada beberapa daerah yang bergabung seperti Lahat, Prabumulih, Ogan Ilir dan Musi Banyuasin,” ungkapnya.
Eryn menegaskan bahwa IRL merupakan organisasi sosial non-profit yang bergerak secara sukarela demi membantu para lansia.
“Semakin banyak lansia, maka semakin besar pula kepedulian sosial yang harus kita miliki untuk mengurusi mereka. Organisasi ini benar-benar sosial dan tidak ada amplop,” tegas Eryn.
Dirinya berharap melalui kegiatan TOT tersebut, pembentukan sekolah lansia dapat terus berkembang di seluruh wilayah Sumatera Selatan.
“Alhamdulillah hari ini hadir 25 calon kepala sekolah atau pengajar. Artinya akan ada 25 titik sekolah lansia yang segera dibentuk. Harapan kami jumlahnya terus bertambah hingga menjangkau seluruh 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan,” tutupnya. (Akip)







