Pilarinformasi.com, Pengabuan— Dari lahan yang pernah ditinggalkan puluhan tahun, kini hamparan sawah di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), perlahan berubah menjadi sumber pangan sekaligus harapan baru bagi masyarakat. Perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan Program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang dikembangkan PT Pertamina EP (PEP) Adera Field.
Program yang mengusung semangat “Menanam Pangan, Menguatkan Ekonomi, Menjaga Lingkungan” tersebut tidak hanya mendorong peningkatan aktivitas pertanian, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat melalui pendampingan, pengembangan kelompok tani dan pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Perjalanan tersebut bermula pada 2014, ketika areal persawahan Serut 1 yang telah lama ditinggalkan sejak sekitar 1980-an kembali diupayakan untuk ditanami. Bersama kelompok tani Serut 1, saat itu dibuka sekitar dua hektare lahan dengan target sederhana: memastikan tanaman padi kembali tumbuh dan menghasilkan.
“Alhamdulillah, padi tumbuh dan berbuah. Kami bisa panen bersama Pertanian, Pertamina dan desa,” tutur Sarbeni, Local Hero Kelompok Tani Barokah Program PERMATA.
Namun, keberhasilan awal bukan berarti perjalanan berhenti. Percobaan berikutnya sempat menghadapi serangan walang sangit dan burung pipit. Kelompok tani kemudian kembali membuat demplot dan belajar berbagai inovasi pertanian, termasuk hingga ke Sumatera Barat.
Dari proses pembelajaran tersebut, mereka mengenal sistem Saliho dan pola tanam jajar legowo. Pengetahuan itu kemudian diterapkan di Pengabuan dan menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan pertanian masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, lahan pertanian pun terus berkembang. Data perkembangan Program PERMATA menunjukkan luas lahan yang sebelumnya 18 hektare pada 2024, meningkat menjadi 22 hektare pada 2025, dan ditargetkan mencapai 27 hektare pada 2026.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas. Dari rata-rata 4 ton per hektare pada 2024, produktivitas meningkat menjadi 5,1 ton per hektare pada 2025, dengan target mencapai 6,2 ton per hektare pada 2026.
Jika dikonversikan secara keseluruhan, produksi gabah yang semula sekitar 72 ton per tahun pada 2024 meningkat menjadi 112 ton pada 2025 dan ditargetkan mencapai 167 ton per tahun pada 2026. Sementara setara beras meningkat dari 50 ton menjadi 78 ton, dan ditargetkan mencapai 117 ton per tahun.
Bagi masyarakat, peningkatan tersebut bukan hanya angka. Di baliknya terdapat proses panjang berupa pembelajaran, pendampingan dan keberanian petani untuk mencoba metode pertanian baru.
“Pertamina menghadirkan pendamping. Kami diajarkan sistem SRI(System of Rice Intensification),bagaimana tata sawah yang benar, sampai bisa tanam satu-satu dan menerapkan pertanian organik. Kami juga belajar cara bertani dan membuat pupuk,” jelas Sarbeni.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh melalui pendampingan menjadi salah satu modal penting bagi kelompok tani untuk berkembang. Mereka tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mempelajari pengendalian hama, pembuatan pupuk dan pengolahan bahan pertanian secara mandiri.
“Ilmu itu sangat berharga dalam kehidupan kami. Kami belajar membuat asam cair dan menangani berbagai hama. Sekarang kami sudah bisa memproduksinya dalam skala kecil, sekitar 8 sampai 10 liter,” katanya.
Menjaga Padi Lokal
Salah satu bagian menarik dalam pengembangan PERMATA di Pengabuan adalah upaya mempertahankan padi Srai, varietas padi lokal yang telah ditanam dan dibudidayakan masyarakat sejak 1991.
Padi lokal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kearifan lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Berdasarkan informasi pada program, padi Srai memiliki umur tanam sekitar 110–130 hari dan tinggi tanaman sekitar 115–150 sentimeter.
“Ke depan kami ingin membuat bibit sendiri. Kalau sudah bisa memproduksi sendiri, bibit itu bisa kami kembangkan dan dijual. Kami juga ingin menjaga kemurnian benih padi lokal,” ujar Sarbeni.
Dari Produksi hingga Nilai Tambah
PERMATA juga diarahkan tidak berhenti pada budidaya padi. Ekosistem program mencakup persiapan lahan, budidaya, panen dan pascapanen hingga pemanfaatan limbah jerami.
Jerami hasil panen dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan seperti biofoam, sementara hasil pertanian juga dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah.
Bagi Pertamina, pola tersebut menjadi bagian dari upaya agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi secara bertahap mampu mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional I, mengatakan posisi Pertamina dalam program tersebut adalah sebagai pelaksana pendampingan dan pengembangan, dengan tujuan akhir mendorong kelompok masyarakat mencapai kemandirian berkelanjutan.
“Keberhasilan kelompok tani ini bukan hanya ketika program berjalan, tetapi bagaimana kelompok ini bisa mencapai kemandirian yang berkelanjutan. Ketika kelompok ini sudah mandiri, Pertamina bisa memiliki peluang lebih luas untuk memberdayakan kelompok-kelompok lain sehingga manfaatnya semakin luas,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, program pemberdayaan masyarakat harus didukung pengetahuan yang cukup dan perencanaan yang jelas. Karena itu, pendamping memiliki peran penting dalam memastikan setiap aktivitas berjalan secara terprogram dan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.
Dengan perjalanan sejak 2014 hingga kini, perubahan di Pengabuan memperlihatkan bahwa membangun kemandirian petani membutuhkan proses panjang. Dari sawah yang pernah terbengkalai, kini berkembang menjadi kawasan pertanian yang terus diperluas, dengan produktivitas yang meningkat dan upaya menjaga varietas padi lokal.
PERMATA akhirnya bukan sekadar cerita tentang sawah dan padi. Lebih dari itu, program ini menjadi perjalanan masyarakat untuk mengubah lahan menjadi nilai, pengetahuan menjadi kemampuan, dan pendampingan menjadi kemandirian.







